Dari Silaturahmi ke Sinergi: Dua Pemimpin, Satu Arah untuk Masa Depan PALI

Foto: Silaturahmi Bupati Pali 2013-2025 dengan Bupati Pali 2025-2030 didampingi Ketua dan wakil ketua DPRD Pali serta tokoh masyarakat. Selasa malam 24 Maret 2026.


PALI — Riuh isu yang sempat berembus tentang keretakan hubungan dua tokoh besar di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) akhirnya luruh dalam kehangatan silaturahmi. Di bawah langit Syawal yang teduh, mantan Bupati PALI dua periode, Heri Amalindo, bertemu dan berbincang akrab dengan Bupati PALI saat ini, Asgianto, di Guest House Pendopoan Rumah Dinas Bupati, Selasa (24/3/2026).

Pertemuan itu bukan sekadar temu biasa. Ia menjelma menjadi panggung sunyi yang sarat makna—tempat di mana prasangka runtuh, digantikan oleh senyum, jabat tangan, dan percakapan penuh harapan. Nuansa kekeluargaan terasa kental, seakan menegaskan bahwa di atas segala perbedaan, ada tujuan yang lebih besar: kemajuan PALI.

Turut hadir dalam momen tersebut Ketua DPRD PALI Ubaidillah, Wakil Ketua DPRD PALI Firdaus Hasbullah, serta tokoh masyarakat Erwin Eriza Putra yang akrab disapa Alung. Kehadiran mereka menjadi saksi bahwa pertemuan ini bukan hanya personal, melainkan simbol kebersamaan lintas elemen.


Dalam suasana santai namun berbobot, Asgianto menunjukkan sikap terbuka dan penuh penghormatan kepada pendahulunya. Ia menyadari, pengalaman panjang Heri Amalindo adalah aset berharga yang tidak ternilai.

“Beliau adalah senior yang telah membangun fondasi PALI selama dua periode. Kami sangat terbuka menerima masukan dan saran demi kemajuan daerah,” ujar Asgianto dengan nada tulus.

Bagi Asgianto, kesinambungan pembangunan bukan sekadar jargon, melainkan komitmen. Ia menegaskan bahwa tidak ada sekat di antara kepemimpinan lama dan yang sekarang—yang ada hanyalah semangat bersama untuk melanjutkan yang baik dan menyempurnakan yang belum tuntas.

Sementara itu, Heri Amalindo, dengan ketenangan seorang negarawan, menyampaikan pandangan strategisnya. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas daerah, memperkuat infrastruktur, serta memastikan kesejahteraan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.

Lebih dari satu jam, dialog itu mengalir tanpa beban. Tidak ada lagi ruang bagi sekat-sekat politik masa lalu. Yang tersisa hanyalah gagasan, harapan, dan tekad untuk membawa PALI melangkah lebih jauh.

Di momentum Idul Fitri 1447 Hijriyah, pertemuan ini menjelma menjadi simbol kedewasaan demokrasi. Bahwa setelah kompetisi usai, kolaborasi adalah keniscayaan. Bahwa perbedaan bukan untuk dipertajam, melainkan dipertemukan.

Bagi masyarakat, silaturahmi ini adalah pesan yang lantang namun menenangkan: pembangunan daerah membutuhkan persatuan, bukan perpecahan. Pengalaman Heri Amalindo yang kokoh, bila berpadu dengan energi dan visi baru Asgianto, akan menjadi kekuatan besar yang menggerakkan roda pembangunan.

Lebaran mengajarkan arti memaafkan, namun lebih dari itu, ia mengajarkan pentingnya menjaga hubungan. Dan dari ruang silaturahmi yang sederhana itulah, lahir energi besar—energi sosial dan politik yang konstruktif.

Akhirnya, pertemuan ini bukan hanya tentang dua tokoh, melainkan tentang arah masa depan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. Sebuah masa depan yang ditopang oleh persaudaraan, diperkuat oleh kebersamaan, dan digerakkan oleh tekad untuk maju bersama.

Sebab dari silaturahmi yang tulus, lahir persatuan. Dan dari persatuan itulah, PALI menemukan jalannya menuju kemajuan.(Red).

Komentar